Latest News


More

Posted on : Sabtu, 26 Mei 2018 [0] comments Label: ,

Kejahatan

by : Muye Yoka

Rakyat Papua yang tahan dan diinterogasi dibawah tekanan militer

Kejahatan
Untuk berakhir
Untuk hilang
Apalagi mati
Tak pernah

Di atas tanah leluhur
Di negeri mereka sendiri
Bagai binatang buruan
Mereka dibunuh

Realitas sungguh muram
Duka nestapa tak henti terjadi
Tetes-tetes darah terus mengalir
Air mata pun tak kunjung habis

 Kakek tua bergumam dalam diam:
"Selama Papua ada dalam kolonialisme,
selama itu pula Papua akan ditindas dan dibunuh seperti binatang..."

Berjuanglah
Hilangkan takut
Tanamkan Optimisme
Lawan jahatnya laku


#PaceKumisTopiMiring
Honaratus Pigai
Wounarip, 03112017
Posted on : Jumat, 25 Mei 2018 [0] comments Label: , ,

Reggae, Marley, dan Perlawanan

by : Muye Yoka

Bob Marley, (Google)
Oleh: Farid Dimyati

”Bangkit. Pertahankan hak-hakmu!” (The Wailers)

Bagi penikmat seni khususnya musik, tentunya sudah tak asing lagi jika mendengar genre musik yang satu ini “reggae”, genre musik yang identik dengan legendaris musik dunia, siapa lagi kalau bukan Bob Marley, dengan salah satu lagunya yang sangat fenomenal “no woman no cry”.

Sumber tertulis mengatakan bahwa reggae berasal dari kata-kata Toots and The Maytals yang menyanyikan lagu ini (Do The Reggae) pada tahun 1967. Irama musik reggae lebih pelan dibandingkan dengan rock steady dan irama tambur musik reggae pun dipelankan menjadi apa yang disebut skank [1].

Patrick Hilton dalam Campbell [2], menyatakan bahwa puisi-puisi kebudayaan bersumber dari sejarah dan pengalaman orang – orang yang mengembangkannya, demikian juga dengan musik calypso dan reggae, yang merupakan produk – produk pengalaman historis bangsa Afrika yang ada di Karibia.

Sementara itu, medium ekspresi protes dan sentimen orang-orang Afrika di Amerika juga telah menemukan beberapa bentuknya, seperti isi dan semangat musik jazz dan blues yang kami temukan pada kaum negro Amerika (Afro – Amerika). Sama halnya dengan reggae masa kini di Jamaika yang merefleksikan pesan yang sama, yaitu sebuah reaksi terhadap eksploitasi dan penindasan atas orang – orang Afrika di benua baru.

Musik reggae tumbuh karena semangat anti perbudakan yang memang sudah memuncak dikalangan warga kulit hitam Jamaika, mereka sudah mengalami masa-masa perbudakan selama berabad-abad lamanya. Kebuntuan itulah yang menyebabkan mereka pada akhirnya mulai menyatukan pemikiran dan sikap dalam melawan rezim perbudakan dalam berbagai bentuk, salah satunya melalui jalur kesenian yaitu musik reggae.

Perkembangan Musik Reggae
Tahun 1968 adalah tahun dimana musik reggae mulai berkembang pesat di tanah Jamaika, pada periode perkembangan reggae inilah massa mulai mempertegas kembali pengaruh kuat nilai – nilai budaya di dalam perkembangan kepercayaan diri masyarakat.

Reggae telah membuka peluang -peluang baik pada level kebudayaan, politik, maupun teknologi. Reggae juga merupakan sumber keberanian dan dukungan moral yang tak habis – habisnya, sedemikian rupa sehingga seniman -seniman reggae dapat memasuki arena internasional dan memaksakan kepada dunia sebuah ekspresi orang-orang tertindas yang telah dianggap rendah (inferior) secara kultural maupun secara artistik [3].

Perkembangan musik reggae yang demikian pesat, tidak terlepas dari tangan emas Bob Marley dan grup musiknya The Wailers. Marley selalu menyerukan kepada banyak orang agar “memerdekakan diri sendiri dari perbudakan mental, tak seorangpun kecuali diri kita yang dapat memerdekakan pikiran kita” (emancipate yourself from mental slavery, none but ourselves can free our minds).

Lagu-lagu marley-lah yang kian membakar semangat para kaum dreadlock [4] muda untuk semakin gigih dalam melawan segala bentuk penindasan di Jamaika bahkan di seluruh muka bumi. Musiknya semakin dikenal luas ke seluruh dunia, bahkan hampir di seluruh benua Afrika musik reggae ala marley adalah lagu wajib perjuangan untuk melawan bentuk perbudakan di benua hitam tersebut.
Get up, stand up, stand up for your right, get up, stand up don’t give up to fight!

Bangun, berdiri, pertahankan hak-hakmu, berdirilah jangan berhenti untuk melawan ( lagu “Get up Stand up”). Lirik tersebut adalah bentuk provokasi Marley dalam membakar semangat kaum muda kulit hitam untuk tetap berjuang mempertahankan hak-hak nya sebagai manusia, Marley merupakan sosok legendaris musik reggae yang tak kenal lelah untuk selalu menyerukan kepada dunia bahwa perbudakan terhadap kulit hitam adalah sebuah kejahatan kemanusiaan yang tak beradab.

Marley dan salah satu sahabatnya, Peter Tosh selalu menyerukan ” you can fool some people sometimes, but can’t fool all the people all the time “ (kau dapat membodohi beberapa orang sesekali, tetapi tidak bisa membodohi semua orang setiap saat).

Bahkan lagu I Shot The Sheriff, telah mampu menarik banyak penggemar simpatik dari seluruh dunia, karena simbolisme menentang penguasa tiran tidak hanya digemari oleh orang -orang kulit hitam saja, tetapi juga oleh seniman-seniman budaya kulit putih seperti Mick Jagger dan John Lennon.
Bangsa-bangsa kulit hitam semakin gigih dalam memperjuangkan hak-hak kemanusiaannya, terlebih dengan propaganda Marley melalui musik reggae nya telah membuka mata dunia bahwa perbudakan adalah sebuah bentuk kekejaman kemanusiaan.

Hingga pada akhirnya kemerdekaan atas segala bangsa benar – benar terwujud diatas muka bumi ini tanpa adanya perbedaan warna kulit. Berikut adalah salah satu penggalan pidato yang disampaikan oleh Kaisar Haile Selassie (raja bangsa kulit hitam) di Amerika Serikat pada tahun 1964 sebagai bentuk perjuangan untuk kemerdekaan bangsa-bangsa kulit hitam Afrika. Beberapa kalimat dalam pidato ini dijadikan lirik oleh Bob Marley dalam lagu War:

until the philosophy which hold one race superior and another inferior
is finnaly and permanently discredited and abandoned
until there are no longer
first class and second class citizens of any nation,
until the basic human rights are equally
guarented to all without regard to race
until that day, the dream of lasting peace

Daftar Rujukan
1] 2] 3] Dikutip dari buku “ Rasta dan Perlawanan” karya Horace Campbell (1989)
[4] Dreadlock adalah kaum berambut gimbal, diidentikan sebagai pengikut rastafari dan penggemar musik reggae
Posted on : [0] comments Label:

Belajar Hal Positif dari Semut

by : Muye Yoka
Ilustrasi Perjuangan Semut untuk hidup

Pepatah "Di Mana Ada Gula, Di Situ Ada Semut" agaknya kurang tepat. Kenapa? Karena semut tetap hadir dimana-mana dengan aktif meski ada gula atau tidak. Walau kecil, tapi banyak hal positif yang dapat dipelajari lewat Perilaku dan Kebiasaan Semut:

1. SEMUT TIDAK PERNAH PUTUS ASA
Coba bentangkan tangan untuk menutup jalan yang dilalui semut. Semut tak akan putus asa, apalagi berhenti, tapi terus berjalan mencari rute lain. Semut tidak takut, ragu, kuatir dan bimbang.

Sudahkah anda memaksimalkan kerja dan tak pernah putus asa dalam menjalani hidup ini?

2. SEMUT RAJINNYA LUAR BIASA
Pernahkah melihat semut tidur-tiduran atau santai? Semut selalu rajin, aktif bekerja mengangkut makanan. Kerja sudah menjadi bagian penting dari hidup semut. Semut tak pernah merasa bosan dengan apa yang dia kerjakan tiap hari, sebab semut mempunyai tujuan dan arah hidup.

Apakah anda sudah mempunyai arah dan tujuan di dalam hidup anda sekarang?

3. SEMUT ITU KUAT
Semut sanggup mengangkat beban yang jauh lebih besar dari tubuhnya. Semut tak mengeluh dan bersungut-sungut, tak patah semangat, apalagi menyerah.

Mampukah anda menghadapi problem hidup seperti semut?

4. SEMUT BERJIWA SOSIAL
Apa yang dilakukan semut ketika makanan yang hendak diangkut terlalu berat? Semut tidak mempunyai sifat egois, mau menang sendiri, mereka akan tolong-menolong untuk mengangkatnya bersama-sama.

Apakah anda Egois atau Berjiwa Sosial seperti semut?

5. SEMUT CEPAT MELIHAT PELUANG
Semut cepat hadir ketika dia mengetahui ada peluang untuk mendapatkan makanan. Semut tak akan menyia-nyiakannya peluang, sebab semut tahu peluang itu hanya datang sekali saja.

Apa anda termasuk orang yang bisa menggunakan peluang itu dengan baik?

Mari belajar dari semut dan terus mengembangkan Kebiasaan dan Pola Hidup Positif dan Benar,
agar hidup menjadi lebih baik lagi!!!

"Hai pemalas, pergilah kepada semut,
perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak."
Salam**

Posted on : Minggu, 13 Mei 2018 [0] comments Label: ,

Kebenaran Akan Memerdekakan Kamu

by : Muye Yoka
Paus Fransiskus



Kebenaran Akan Memerdekakan Kamu
(Minggu Komunikasi Sedunia)

Injil minggu ini, dalam doa Yesus tampak cintaNya agar manusia hidup tanpa konflik. “Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, supaya mereka menjadi satu sama seperti kita.” (Yoh. 17:11). Yesus ingin kita bersatu dan hidup damai sejahtera.

Ia mengutus kita untuk mewartakan Injil, Kabar Gembiran tentang kasih Allah. Tapi, dunia ini seperti tidak menyukai firman Allah. Karena itu kita mengalami banyak tantangan dan pertentangan.

Yesus sadar Ia akan meninggalkan dunia ini dan para murid-Nya akan dibenci dunia, sebab Firman Allah tidak disukai dunia. Yesus berdoa agar Allah Bapa melindungi dari yang jahat. Yesus tidak berdoa agar kita diambil dari dunia ini, tetapi agar kita tetap hidup di dunia ini dan menjadi penerus warta kebenaran.

Hari ini kita merayakan Hari Komunikasi Sedunia. Tujuan dan kodra komunikasi itu adalah agar semua orang bersatu.

Kata “komunikasi” berasal dari kata Lain: cum artinya bersama-sama, dan unum artinya satu. Jadi, komunikasi adalah proses bersama-sama menjadi satu.

Maka semua alat dan media komunikasi haruslah kita pakai untuk menyatukan kita dan bukan untuk memecah-belah, menyebar fitnah atau hoax. Alat dan media komunikasi juga tidak boleh kita pakai untuk menyebarkan berita yang menciptakan kebaikan bersama.

Di hari Kominikasi tahun ini, Paus Fransiskus menilai pada umumnya di dunia, berita palsu sudah merasuk hidup manusia. Berita Palsu menyebar sangat cepat seperti virus yang mematikan hubungan baik.

Penyebaran Berita Palsu
Berita palsu terkait dengan informasi palsu tanpa berdasarkan data atau memutar balik data dengan tujuan menipu dan mencurangi baik pembaca maupun pemirsa atau pendengar. Penyebaran berita palsu dimaksudkan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, memengaruhi keputusan-keputusan politik, dan melayani kepentingan-kepentingan ekonomi.

Berita palsu itu bisa efektif, terutama karena mampu mengelabui seolah-oleh berita yang benar dan masuk akal. Kedua, berita palsu,  namun meyakinkan ini, amat cerdik serta mampu menarik perhatian, dengan memunculkan hal-hal stereotipe dan apa yang menjadi objek keingintahuan umum, serta mengeksploitasi emosi-emosi sesaat seperti kecemasan, rasa terhina, kemarahan dan frustrasi. Kemampuan untuk menyebarkan berita palsu semacam itu sering kali ditopang oleh kemampuan memanfaatkan, dengan manipulasi, pelbagai jejaring sosial dan cara kerjanya.

Cerita-cerita yang tidak benar dapat menyebar begitu cepat,  sehingga bantahan-bantahan dari pihak berwenang sekalipun gagal membendung dampak negatif yang ditimbulkannya.

Kesulitan untuk membuka kedok dan menyingkirkan berita palsu juga disebabkan oleh kenyataan bahwa banyak orang berinteraksi dalam ruang lingkup digital yang seragam, yang “kedap” terhadap aneka sudut pandang dan pendapat yang berbeda, sehingga informasi sesat tumbuh subur di tengah tidak adanya informasi tandingan dari sumber-sumber lain yang dapat secara efektif menangkal prasangka dan melahirkan dialog konstruktif.

Akibatnya, berita palsu itu menyeret orang menjadi kaki-tangan untuk meneruskan penyebaran gagasan tak berdasar dan bias. Tragedi dari informasi sesat ialah pendiskreditan pihak-pihak lain, menampilkan mereka sebagai musuh, dengan tujuan menjadikan mereka sasaran kebencian dan mengobarkan konflik. Berita bohong adalah wujud dari sikap intoleran dan hipersensitif, yang hanya akan mengarah kepada penyebaran arogansi dan kebencian. Itulah capaian akhir dari kebohongan.

Walaupun demikian Paus Fransiskus mengatakan kebenaran akan memerdekakan kamu. Kebenaran tidak dapat dikalahkan dengan kebohongan dan pembodohan.

“Kebenaran itu akan Memerdekakan Kamu” (Yoh 8:32)
Pencemaran terus-menerus oleh bahasa bohong dapat berakhir pada semakin gelapnya kehidupan batin kita. Pengamatan Dostoevsky menjelaskan hal itu: “Orang-orang yang menipu diri dan mempercayai tipuannya sendiri akan sampai pada suatu titik,  di mana mereka tidak dapat lagi mengenal kebenaran di dalam diri mereka, atau di sekitar mereka, dan dengan demikian mereka kehilangan rasa hormat terhadap diri mereka sendiri dan terhadap orang lain. Dan ketika mereka tidak lagi memiliki rasa hormat pada diri mereka sendiri, mereka akan berhenti mencintai, dan kemudian untuk menyibukkan diri dan mengalihkan perhatian dari diri mereka yang tanpa kasih, mereka mengumbar berbagai nafsu dan kenikmatan badani, serta tenggelam dalam ketamakan yang meyerupai binatang, dalam kebiasaan untuk terus menerus berbohong kepada sesama dan diri mereka sendiri”. (The Brothers Karamazov, II, 2).

Lalu, bagaimana kita dapat mempertahankan diri dari kebohongan? Penangkal paling jitu terhadap virus kepalsuan adalah pemurnian oleh kebenaran.

Dalam Kekristenan, kebenaran bukan melulu suatu realitas konseptual yang berhubungan dengan bagaimana kita menilai segala sesuatu, menentukan sesuatu  benar atau salah. Kebenaran itu tidak sekadar mengungkapkan hal-hal yang tersembunyi, “menyingkap kenyataan”, sebagaimana kebenaran diartikan dalam istilah Yunani kuno yaitu aletheia (dari kata a-lethès, “tidak tersembunyi”). Kebenaran mencakup keseluruhan hidup kita. Dalam Alkitab, kebenaran mengandung makna dukungan, soliditas dan kepercayaan, seperti yang tersirat oleh akar kata ‘aman,’ asal-usul  kata ‘amin’ dalam liturgi kita. Kebenaran adalah sesuatu ke mana anda dapat bersandar agar tidak jatuh. Dalam pengertian relasional ini, Dialah satu-satunya yang dapat sungguh-sungguh diandalkan dan dipercayai – Dia yang bisa kita andalkan – adalah Tuhan yang hidup. Oleh karena itu, Yesus dapat berkata: “Akulah kebenaran” (Yoh 14:6). Kita menemukan kembali kebenaran ketika kita mengalaminya di dalam diri kita sendiri, dalam kesetiaan dan kepercayaan kepada Dia yang mengasihi kita. Inilah satu-satunya yang dapat membebaskan kita: “Kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 8:32).

Bebas dari kepalsuan dan mencari relasi, merupakan dua unsur yang tidak boleh hilang dari kata dan perbuatan kita, agar kata dan sikap kita benar, otentik dan dapat dipercaya.

Untuk mengenal kebenaran, kita perlu mengenal segala sesuatu yang mendorong terbentuknya persekutuan dan yang memajukan kebaikan, serta  membedakannya dari apa pun yang cenderung mengasingkan, memecah belah, dan menentang. Karena itu, kebenaran sesungguhnya tidak dapat dipahami,  ketika kebenaran dipaksakan dari luar sebagai sesuatu yang impersonal. Kebenaran hanya dapat mengalir dari relasi bebas di antara orang-orang dan dari saling mendengarkan.

Kita juga tidak akan pernah bisa berhenti mencari kebenaran, selama kepalsuan selalu bisa menyelinap masuk, bahkan ketika kita menyatakan hal-hal yang benar. Argumen yang tak dapat salah, sesungguhnya berlandas pada fakta-fakta yang tak terbantahkan, namun jika argumen itu digunakan untuk melukai orang lain dan untuk mendiskreditkan orang itu di hadapan orang lain, maka betapapun argumen itu kelihatannya benar, argumen tersebut sesungguhnya tidak mengungkap kebenaran. Kita bisa mengenal kebenaran setiap pernyataan dari buahnya: apakah pernyataan itu memicu pertengkaran, menimbulkan perpecahan, mendorong pengunduran diri; atau sebaliknya, pernyataan itu mengembangkan refleksi yang matang dan berlandas pada informasi benar yang mengarah kepada dialog konstruktif  dengan hasil-hasil yang bermanfaat.

Perdamaian adalah Berita Yang Sebenarnya
Penangkal terbaik melawan  kebohongan bukan strategi, melainkan masyarakat: masyarakat yang tidak serakah, tetapi bersedia mendengarkan, masyarakat yang berikhtiar melakukan dialog tulus agar kebenaran dapat tersingkap: masyarakat yang tertarik oleh kebaikan dan bertanggung jawab atas cara bagaimana memanfaatkan bahasa. 

Jika tanggung jawab adalah jawaban terhadap penyebaran berita bohong, maka tanggung jawab berat  itu berada di pundak orang-orang yang tugasnya memberikan informasi, yaitu para wartawan, pengawal berita. 

Di dunia sekarang ini, tugas mereka adalah memberikan informasi bukan sekadar sebagai suatu  pekerjaan.  Tugas itu adalah sebuah misi, perutusan. Di tengah hiruk pikuk dan hingar-bingar kesibukan menyampaikan berita pertama serta tercepat, para jurnalis mesti ingat bahwa intisari informasi bukanlah kecepatan menyampaikan atau dampaknya pada para audiens, melainkan orang perorangan. 

Memberikan informasi kepada orang lain berarti membentuk mereka; itu berarti ada hubungannya dengan kehidupan orang lain. Itulah alasannya mengapa menjamin keakuratan sumber dan melindungi komunikasi adalah sarana riil untuk memajukan kebaikan, membangkitkan kepercayaan, dan membuka jalan menuju persekutuan dan perdamaian.

Maka, saya ingin mengajak semua orang untuk memajukan  jurnalisme perdamaian. Jurnalisme perdamaian tidak dimaksudkan sebagai jurnalisme “pemanis rasa” yang menolak mengakui adanya masalah-masalah serius atau jurnalisme yang bernada sentimentalisme. Sebaliknya, jurnalisme perdamaian adalah suatu jurnalisme yang jujur dan menentang kepalsuan, slogan-slogan retoris, dan pokok berita yang sensasional. Sebuah jurnalisme yang diciptakan oleh masyarakat untuk masyarakat, yang melayani semua orang, terutama mereka – dan mereka adalah mayoritas di tengah dunia kita – mereka yang tidak bersuara. Sebuah jurnalisme yang tidak terpusat pada breaking news (berita sela) tetapi menelisik sebab-sebab yang mendasari konflik, guna memajukan pemahaman yang lebih mendalam dan memberi sumbangan bagi jalan keluar dengan memulai suatu proses yang baik. Sebuah jurnalisme yang berkomitmen untuk menunjukkan beragam alternatif terhadap meningkatnya keributan dan kekerasan verbal.

Untuk mencapai tujuan ini, seraya menimba ilham dari untaian doa Fransiskan, kita sebagai pribadi mesti  berpaling kepada Sang Kebenaran:

Tuhan, jadikanlah kami alat damai-Mu.

Bantulah kami mengenali kejahatan yang tersembunyi dalam suatu komunikasi yang tidak membangun persekutuan.

Bantulah kami untuk membuang racun dari berbagai penilaian kami.

Bantulah kami untuk berbicara tentang orang lain sebagai saudara dan saudari kami.

Dikaulah yang setia dan dapat diandalkan; semoga perkataan kami menjadi benih kebaikan bagi dunia:

di mana ada teriakan, biarkanlah kami berlatih mendengarkan;

di mana ada kebingungan, biarkanlah kami mengilhami keselarasan;

di mana ada ketidakjelasan, biarkanlah kami membawa kejelasan;

di mana ada pengucilan, biarkanlah kami memberi solidaritas;

di mana ada kegemparan, biarkanlah kami memakai ketenangan;

di mana ada kedangkalan, biarkanlah kami mengajukan persoalan-persoalan nyata;

di mana ada prasangka, biarkanlah kami membangkitkan kepercayaan;

di mana ada permusuhan, biarkanlah kami membawa rasa hormat;

di mana ada kepalsuan, biarkanlah kami membawa kebenaran.

Amin.

(Perampung: Honny Pigai)

Posted on : Kamis, 10 Mei 2018 [0] comments Label: ,

Di Balik Jeruji Besi

by : Muye Yoka
Dalam trali Besi/Doc.Facebook

Di balik jeruji besi
kami dikurung dan ditahan
padahal kami bukan tahanan
bukan pula penjahat kakap

Di balik jeruji besi
kami disiksa dan diancam
padahal kami bukan koruptor
bukan pula pembunuh bayaran

Di balik jeruji besi
kami ditampar dan tendang
padahal kami bukan pencuri
bukan pula mafia-mafia jahat

Di balik jeruji besi
kami dipantau dan dimata-matai
padahal kami bukan pengedar narkoba
bukan pula penikmat ganja.

Di balik jeruji besi
kami dituduh 1001 macam
padahal kami tak punya salah
bukan pula pengacau

Di balik jeruji besi
nyawa kami jadi taruhannya
itulah pilihan jadi aktivis
pejuang adil dan bebas


#PHP
#PaceKumisTopiMiring
Honaratus Pigai
Kamar, 36, 19042018

Posted on : [0] comments Label: ,

Rest In Peace, Keadilan

by : Muye Yoka
Ilustrasi Penguasa mengikat keadilan dan menindis kemiskinan rakyat/Doc.Google


Jika dalami sedalam-dalamnya
Jika melihat apa yang tak tampak
Jika mendengar apa yang tak terdengar
Jika berpikir apa yang tak terpikir
Jika berasa apa yang tak terasa

Banyak cerita terpampang di gedung putih
Konglomerat berdasi tertawa terbahak-bahak
Penguasa dunia berjaya di kursi mafia
Mereka berpesta menatap keadilan yang mati

Banyak cerita di jalanan yang terlewatkan
Rakyat jelata merintih ratap berduka
Rakyat tertindih di bawah kaki penguasa  
Keadilan tak kuasa menandinginya

Kuatnya kaum berdasi merubah alur adil
cerita terbalik benar-benaran, sungguh
Membaranya duka rakyat tak henti
Keadilan tak kunjung datang

Bumi pun menitikan air dari langit
Terasa benar-benar lumpuh total
Banjir ketakadilan mengahutkan lara
Keadilan menghadap kematian


muye_voice@fwp
Honaratus Pigai
Papua, 14/03/2016